Desa Salutambung adalah salah satu Desa yang meliputi Sejarah Desa, Demografi yang di diami oleh 379 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk 1475 jiwa serta Keadaan sosial yang cukup tinggi yang masih mempunyai kearifan lokal yang harus selalu dijaka kelestariannya yaitu sifat kegotong royongan, namun keadaan ekonomi masyarakat Desa Salutambung masih belum terlalu maju, ini sangat terlihat bahwa tingkat data penduduk miskin masih cukup banyak.
Pada zaman pendudukan Bangsa Belanda di Nusantara ini atau tepatnya sekitar tahun 1905, wilayah Sulawesi Barat yang didiami oleh etnis Mandar, dikenal sebagai satu wilayah: Afdeling Mandar yang terdiri dari 4 (empat) wilayah Onder Afdeling. Salah satu diantaranya adalah Onder Afdeling Majene. Di bawah Onder Afdeling dibagi lagi atas beberapa wilayah Swapraja. Di bawah Swapraja dikenal lagi dengan beberapa Distrik. Istlilah distrik ini masih digunakan sampai beberapa tahun setelah Proklamasi Kemedekaan Republik Indonesia Tahun 1945.
Bersamaan dengan beberapa desa tetangganya di wilayah Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene, Pada Tahun 1985 Desa Sambabo juga dibentuk. Desa Sambabo merupakan gabungan dari dua bagian wilayah distrik yang berbeda, yaitu Desa Kabiraan yang merupakan wilayah Distrik Ulumanda yang dipimpin oleh TOMAKA dan Desa Sambabo yang merupakan Desa yang dimekarkan merupakan Wilayah Hadat Sambaho yang dipimpin oleh MARA’DIA.
Dari keterangan para Narasumber yang sempat diwawancarai, Nama SAMBABO diambil / diabadikan dari Kata SAMBAHO yang berarti DIATAS yang berarti Desa Sambabo Desa diatas Gunung. Konon bahwa penduduk Sambabo yang pada saat itu bermukim /menempati kampung secara teratur dalam jumlah yang banyak, kebanyakan diisi keturunan Raja dari BULO sebuah Kampung yang ada Kabupaten Polewali Mandar.
Sejarah terbentuknya nama Sambabo diambil saat Rapat pertama yang dilaksanakan di Sulai yang masing-masing tokoh mengusulkan nama Desa antara lain yang mengemuka Salutambung, Liba dan Sambabo sendiri, pada akhirnya seluruh peserta rapat menyepakati nama Desa Sambabo. Seiring terbentuknya Desa Sambabo maka pemerintahanpun dibentuk dan Kepala Desa pertama dijabat oleh IDRIS selama 2 tahun, setelah Desa Sambabo defenitif kepala Desa dijabat oleh ARIFIN.
Sejak pemerintahan dipegang oleh ARIFIN inilah SALUTAMBUNG menjadi bagian dari Desa Sambabo yang kala itu Salutambung menjadi bagian dari Distrik Tubo. Kepala Dusun kala itu adalah PUA’ NONI disuruh memilih mau mengikut kemana apa ke Tubo atau ke Malunda yang pada akhirnya Pua’ Noni memilih Malunda.
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan terbukanya beberapa Dusun di Desa Sambabo dan atas tekad, kerjasama serta keinginan yang kuat dari Masyarakat, serta adanya kebijakan baru dari pemerintah Kabupaten Majene bersama DPRD telah menetapkan Ranperda Pemekaran Desa tersebut bersama dengan Desa-Desa lain dalam wilayah Kab. Majene melalui Rapat paripurna DPRD. Dan pada tanggal 01 Maret 2011 oleh Bpk. H.KALMA KATTA sebagai Bupati Majene, telah meresmikan pemekaran Desayang tertuang dalam PERDA nomor 7 tahun 2010 tanggal 6 Desember 2010 tentang Pembentukan Wilayah Desa di Wilayah Kabupaten Majene maka Desa Sambabo dimekarkan menjadi 2 Desa yakni Desa Sambabo dan Desa Salutambung.
Sebagai ibukota Desa Sambabo maka Desa Salutambung sudah mempunyai pusat pelayanan administrative Desa dengan ukuran 7,5 X 12 M2. Berdasarkan Perda tesebut diatas maka pemerintahan Desa Salutambung sambil menunggu proses pemilihan Kepala Desa maka Camat Ulumanda SUDIRMAN, S.Pd, M.Si menunjuk Penjabat Kepala Desa. Penjabat Kepala Desa dimaksud adalah Sekertaris Desa Sambabo SYAMSUDDIN IDRIS.
Penjabat Kepala Desa pulalah yang mengawal Pemilihan Kepala Desa Salutambung yang pertama kali dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 2011 secara serentak diwilayah Kabupaten Majene. Proses pemilihan Kepala Desa tersebut diikuti oleh 4 Calon Kepala Desa yang akhirnya dimenangkan oleh JABARUDDIN yang menjabat sampai Tahun 2023 setelah kembali terpilih pada Tahun 2017.